Sabtu, 27 Juli 2013

Dinasti Ming



Dinasti Ming (Hanzi: 明朝, hanyu pinyin: ming chao) (1368 - 1644) adalah dinasti satu dari dua dinasti yang didirikan oleh pemberontakan petani sepanjang sejarah Cina. Dinasti ini adalah dinasti bangsa Han yang terakhir memerintah setelah Dinasti Song. Pada tahun 1368, Zhu Yuanzhang berhasil mengusir bangsa Mongol kembali ke utara dan menghancurkan Dinasti Yuan yang mereka dirikan. Ia mendirikan dinasti Ming (大明國; Dà Míng Guó), dengan ibukotanya di Yingtian (sekarang Nanjing) sebelum putranya, Zhu Di, yang menjadi kaisar ke-3 memindahkan ibukota ke Shuntian (sekarang Beijing). Yingtian kemudian berganti nama menjadi Nanjing (ibukota selatan).
Berdirinya Dinasti Ming
Zhu Yuanzhang kemudian memutuskan untuk berbasis di Yingtian untuk memusatkan kekuatan demi mempersatukan daratan Cina. Pada awalnya, situasi Zhu di wilayah Yingtian sangat tidak strategi buat mengumpulkan kekuatan dalam waktu singkat. Kemudian ia menerima nasihat Zhu Sheng untuk memperkuat pertahanan dan memusatkan perhatian pada perbaikan logistik dan tidak terlalu gegabah untuk mengangkat diri sendiri menjadi raja.
Kebijakan ini menyebabkan Zhu dapat memperkuat dirinya dalam waktu singkat. Ia kemudian menyerang kekuatan pemberontak lainnya, Chen Youliang pada tahun 1360. Ia kemudian berhasil memukul mundur pasukan Chen ke Jiangzhou, wilayah pesisir sebelah timur Yingtian. Dalam waktu tiga tahun, Zhu berhasil menghancurkan kekuatan Chen.
Tahun 1367, Zhu berhasil menaklukkan Zhang Shicheng, pemberontak lainnya dan menguasai Pingjiang (sekarang Suzhou, Jiangsu). Dalam tahun yang sama, Zhu juga menghancurkan kekuatan Fang Guozhen yang pada saat itu menguasai wilayah pesisir Zhejiang. Setelah keberhasilan ini, Zhu Yuanzhang mengangkat diri sebagai kaisar pada tahun 1368, memulai sejarah Dinasti Ming selama 300 tahun ke depan. Ia menetapkan Hongwu sebagai tahun pemerintahan sehingga ia dikenal juga sebagai Kaisar Hongwu.
Pada tahun itu juga, Kaisar Hongwu melakukan ekspedisi ke utara untuk mempersatukan Cina. Kekaisaran Yuan yang saat itu telah melemah tidak dapat menghambat tentara Ming yang saat itu bermoral tinggi karena kemenangan demi kemenangan. Ibukota Yuan, Dadu berhasil dikuasai dan dibumi-hanguskan atas perintah Kaisar Hongwu. Suku Mongol kemudian berhasil diusir kembali ke padang rumput Mongol.
Setelah berhasil menghancurkan Dinasti Yuan, Kaisar Hongwu menaklukan pemberontak Ming Yuzhen di Sichuan pada tahun 1371. Sepuluh tahun kemudian, hancurnya kekuatan Raja Liang dari Dinasti Yuan di Yunnan mengukuhkan penyatuan Cina daratan di bawah Dinasti Ming.

Masa kejayaan awal (1368-1436)

Pemerintahan Hongwu
Setelah berhasil mendirikan Dinasti Ming, Kaisar Hongwu melaksanakan kebijakan untuk menenangkan rakyat. Di antaranya dengan mengembalikan gerak roda perekonomian, melakukan reformasi birokrasi Dinasti Yuan, meringankan pajak dan beban petani dan menghukum berat para pejabat yang korup. Masa ini dikenal sebagai pemerintahan Hongwu dalam sejarah.
Kaisar Hongwu juga merupakan kaisar yang penuh kecurigaan terhadap para menterinya. Ia takut pejabat kekaisaran menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan mereka untuk kepentingan diri sendiri yang pada akhirnya dapat mengancam dan membahayakan kekuasaannya. Dalam pada itu, ia terkenal sebagai kaisar yang kerap menjatuhkan hukuman kepada para menterinya.
Pada menteri terkenal yang dibunuh antara lain adalah Liau Yongzhong, Zhu Liangxiang, Li Wenzhong, Hu Weiyong, Lan Yu dan Chen Ning.
Pada akhirnya, hampir seluruh pejabat kekaisaran yang berjasa dalam pendirian Dinasti Ming kecuali Tang He dihukum mati oleh Kaisar Hongwu. Setelah ini, Kaisar Hongwu juga membentuk badan intelijen yang selanjutnya makin mengukuhkan kekuasaan absolut di tangannya.

Insiden Jingnan

Insiden Jingnan adalah peristiwa kudeta berdarah karena perebutan tahta kekaisaran antara Kaisar Jianwen dan Raja Yan, Zhu Di yang selanjutnya menjadi Kaisar Yongle. Kaisar Jianwen, Zhu Yunwen adalah cucu tertua dari Zhu Yuanzhang. Zhu Yunwen sendiri adalah anak dari Zhu Biao, anak sulung Zhu yang mati muda sebelum sempat naik tahta.
Tahun 1398, Kaisar Hongwu wafat dan digantikan oleh Kaisar Jianwen. Kaisar Jianwen atas nasihat menterinya, Qi Tai melakukan pembersihan lawan-lawan politiknya yang masing-masing memiliki kekuatan sendiri di seluruh negeri. Lawan politik yang dimaksud adalah para raja yang sebenarnya masih merupakan pamannya sendiri, anak dari mendiang Kaisar Hongwu.
Lima raja berhasil diturunkan dari tahta dan menjalani hukuman sebagai rakyat biasa. Raja Yan, Zhu Di adalah anak keempat dari Kaisar Hongwu, mempunyai kekuatan paling besar kemudian melakukan kudeta saat mendengar bahwa kekuatannya akan menjadi target pembersihan selanjutnya oleh Kaisar Jianwen.
Zhu Di akhirnya melakukan penyerangan ke ibukota Nanjing pada tahun 1399 atas saran dari penasihatnya Yao Guangxiao. Perang saudara pecah antara Kaisar Jianwen dan Zhu Di, namun akhirnya berhasil dimenangkan oleh Zhu Di pada tahun 1402. Kaisar Jianwen hilang dan tidak diketahui nasibnya setelah insiden berdarah ini.
Zhu Di lalu naik tahta dengan gelar Chengzu, menetapkan era pemerintahan sebagai Yongle sehingga dikenal juga sebagai Kaisar Yongle.

Era kejayaan Yongle

Di masa pemerintahan Kaisar Yongle, Ming mengalami masa kejayaan awal. Ekspedisi militer dilakukan oleh Kaisar Yongle untuk mempertahankan kejayaan ini. Annam (sekarang Vietnam) berhasil ditaklukkan dan kemudian menjadi protektorat Ming. Kaisar Yongle juga memimpin ekspedisi ke utara untuk memukul mundur bangsa Mongol ke Asia Tengah demi mencegah ancaman dari mereka.
Tahun 1405, Kaisar Yongle juga memerintahkan Zheng He untuk memimpin ekspedisi maritim ke lautan selatan. Tujuh kali ekspedisi melayari lautan sampai ke Madagaskar.
Pada tahun 1406, istana kekaisaran dibangun di Beiping (sekarang Beijing) dan menggunakan Beiping sebagai basis untuk melakukan ekspedisi ke Mongolia. Sampai pada tahun 1422, pembangunan dan perkembangan Beiping sangat pesat dan Kaisar Yongle kemudian menitahkan untuk memindahkan ibukota dari Nanjing ke Beiping. Beiping kemudian berganti nama menjadi Beijing.
Masa pemerintahan Yongle ditandai dengan kedamaian dan kemajuan yang pesat di seluruh negeri. Dalam catatan sejarah, masa ini dikenal sebagai era kejayaan Yongle (永樂勝世)
 Namun, di balik masa kejayaan ini, Kaisar Yongle bukanlah seorang kaisar yang pengasih. Hukuman yang dijatuhkan kepada lawan politik dan oposisi tidak berkurang, ditandai dengan peristiwa penjatuhan hukuman mati sepuluh kerabat kepada Fang Xiaoru. Ini merupakan peristiwa satu-satunya di dalam sejarah Cina yang biasanya hanya membunuh sampai sembilan kerabat.
Kaisar Yongle wafat pada tahun 1424 dan digantikan oleh anaknya, Zhu Gaochi.

Pemerintahan Renxuan

Setelah Kaisar Yongle wafat pada tahun 1424, anak sulungnya Zhu Gaochi naik tahta menggantikannya sebagai kaisar. Era pemerintahan diganti menjadi Hongxi. Malangnya, ia meninggal tahun berikutnya dalam usia 48 tahun.
Walau era pemerintahannya sangat pendek, namun Kaisar Hongxi melakukan banyak keputusan yang penting di antaranya menghentikan ekspedisi maritim Zheng He dan ekspedisi militer. Ia juga mempromosikan produksi rakyat demi perkembangan ekonomi, mengampuni banyak tawanan politik, meringankan hukuman penjara dan melakukan penghematan di banyak bidang.
Setelah Kaisar Hongxi mangkat, anaknya Zhu Zhanji meneruskan tahta kekaisaran dan kebijakan yang ditinggalkan sang ayah. Ia bertahta sebagai Kaisar Xuande dan terkenal akan kemahirannya dalam seni lukis. Beberapa lukisannya menjadi lukisan ternama dalam sejarah Cina.
Pada tahun 1431, Kaisar Xuande merasakan bahwa pengiriman upeti dari negara-negara protektorat Ming menyusut. Oleh karenanya, ia memerintahkan Zheng He untuk mempersiapkan ekspedisi maritim ketujuh. Ekspedisi ini menjadi ekspedisi terakhir bagi Zheng He karena ia kemudian meninggal di Guli, sebuah kota di pesisir India.
Masa pemerintahan Kaisar Xuande diwarnai dengan campur tangan kasim dalam keputusan kekaisaran yang dilarang sejak masa pemerintahan Kaisar Hongwu. Kaisar Xuande juga dijuluki sebagai kaisar jangkrik karena ia sangat gemar memelihara dan berlaga jangkrik. Hal ini menyebabkan para menteri dan kasim di istana berlomba-lomba untuk memberikan hadiah jangkrik kepada sang kaisar.
Walaupun ada berbagai kekurangan di atas, namun pada masa ini rakyat Ming mengalami kehidupan yang relatif aman dan tenteram. Era ini dikenal sebagai pemerintahan Renxuan (仁宣之治) diambil dari gelar kedua kaisar yang memerintah, Renzong dan Xuanzong.

Era pertengahan (1436-1573)

Invasi Mongol

Pada tahun 1435, Zhu Qizhen naik tahta dengan gelar Yingzong dan era tahun Zhengtong. Kaisar Zhengtong adalah satu-satunya kaisar dinasti Ming yang memerintah dengan dua era pemerintahan, Zhengtong dan Tianshun setelah restorasi tahta kekaisaran.
Masa pemerintahan Kaisar Zhengtong diwarnai dengan penyalahgunaan wewenang oleh kasim ternama, Wang Zhen. Wang adalah seorang guru kekaisaran yang kemudian dikebiri untuk menjadi kasim di dalam istana. Wang secara terang-terangan melanggar peraturan Kaisar Hongwu bahwa kasim tidak diperbolehkan untuk mencampuri urusan kenegaraan. Selama kurun waktu tujuh tahun dengan latar belakang sebagai kasim kesayangan kaisar, tindak-tanduknya yang korup semakin merajalela.
Seiring dengan ini, kekuatan suku Oirat di Asia Tengah makin meningkat. Pada tahun 1449, Esen Khan dari Oirat menginvasi Beijing. Wang Zhen lalu memaksa Kaisar Zhengtong untuk memimpin langsung 500.000 tentara keluar dari Beijing untuk menahan serangan Mongol. Karena pasukan ini tidak terlatih dan juga bermoral rendah menyebabkan garis depan dapat dikalahkan oleh pasukan Mongol.
Mendengar kekalahan ini, Wang Zhen lalu takut untuk meneruskan pertempuran melawan Mongol dan memerintahkan seluruh pasukan untuk mundur. Kuatir kampung halamannya akan luluh lantak setelah dilewati pasukan Ming, ia mengambil rute jalan yang lebih jauh sehingga menyebabkan pasukan Oirat berhasil mengejar pasukan Ming sesampai Kastil Tumu.
Dalam pertempuran di kastil Tumu ini, Kaisar Zhengtong berhasil ditawan oleh Esen Khan, sedangkan Wang tewas dalam pertempuran. Dalam beberapa catatan sejarah tidak resmi, dikatakan bahwa Wang tewas karena dibunuh oleh jenderal Fan Zhong, pengawal kekaisaran yang tidak puas akan tindak tanduk Wang. Namun kebenaran peristiwa ini tidak diakui oleh sejarah resmi kekaisaran. Peristiwa ini dikenal sebagai Insiden Tumu dalam catatan sejarah.
Setelah kabar bahwa insiden ini sampai ke Beijing, menteri-menteri kuatir akan keselamatan mereka bila Beijing jatuh ke tangan Oirat mengusulkan untuk memindahkan ibukota ke Nanjing dan menyerahkan Beijing. Namun usulan ini ditolak oleh salah seorang menteri, Yu Qian yang kemudian menyarankan supaya adik dari Kaisar Zhengtong, Zhu Qiyu untuk meneruskan tahta kekaisaran demi kelanjutan dinasti. Zhu kemudian naik tahta dengan gelar Daizong dan era pemerintahan Jingtai.
Esen Khan sampai ke Beijing namun tidak berhasil menguasai Beijing karena pertahanan kota yang relatif kuat karena strategi pertahanan Yu Qian. Yu Qian kemudian memimpin pasukan Ming keluar Beijing dan memukul mundur pasukan Oirat. Esen Khan kemudian mundur bersama pasukannya dengan membawa Kaisar Zhengtong sebagai tawanan.
Yu Qian tidak menghiraukan tawaran damai dari Esen Khan sebagai tebusan atas Kaisar Zhengtong, namun menyusun strategi pertahanan yang lebih kuat dan selanjutnya mengusir pasukan Oirat lebih jauh ke utara. Esen Khan memperlakukan Kaisar Zhengtong dengan baik dan kemudian melepaskannya setelah merasa bahwa tidak ada gunanya lagi menawan sang kaisar pada tahun 1450.

Restorasi Kaisar Zhengtong

Kaisar Zhengtong yang dilepaskan oleh Esen Khan kemudian pulang ke Beijing. Malangnya, kepulangannya ini tidak disambut gembira oleh Kaisar Jingtai, sang adik yang bertahta menggantikannya selama menjadi tawanan.
Walaupun atas saran para menteri, Kaisar Jingtai memberikan gelar Maha Kaisar, namun ia tidak keluar menyambut Kaisar Zhengtong di gerbang kota, malah menjatuhkannya sebagai tahanan rumah di Istana Selatan. Lebih jauh, Zhu Jianshen yang sebelumnya adalah putra mahkota dicabut gelarnya dan digantikan oleh anak Kaisar Jingtai, Zhu Jianji yang tak lama kemudian meninggal karena sakit.
Sepeninggal Zhu Jianji, Kaisar Jingtai yang tidak mempunyai putra lainnya tidak juga mengembalikan kedudukan Zhu Jianshen sebagai putra mahkota. Pada tahun 1457, Kaisar Jingtai sakit parah dan beberapa menteri merencanakan kudeta untuk merestorasi Yingzong sebagai kaisar. Kudeta ini menyebabkan beberapa menteri yang setia kepada Jingtai dijatuh hukuman mati, di antaranya Yu Qian.
Kaisar Jingtai kemudian diturunkan kedudukannya menjadi raja dan meninggal sebulan kemudian. Sebaliknya, Yingzong bertahta kembali sebagai kaisar dengan era tahun Tianshun.

Selasa, 09 Juli 2013

Introduce My self

Hello, my name is Margaretha Tioria Siregar, i am a university student in University of North Sumatra, I speak English and Germany, i make this blog because i like to share anything to the people like story, experience, knowlodge, etc. hopefully you like my blog.

Sincerely yours


Margaretha

Masalah Umum Ketika Naik Pesawat Terbang



Ada empat masalah umum yang muncul saat naik pesawat terbang.  Berikut cara mengatasinya, agar Anda terhindar dari masalah tersebut dan tetap nyaman dan fit selama di pesawat.

1. Jet Lag
Pemicu : perjalanan panjang yang melintasi zona waktu biasanya akan menimbulkan rasa takut hingga sakit kepala

Sebelum terbang: Jika perjalanan Andamenuju ke arah timur pilihlah penerbangan pagi hari. Jika menuju ke Barat, pilihlah penerbangan pada malam hari. Konsumsilah makanan yang mengandung protein tinggi.

Saat di udara: Jika ada perbedaan waktu, sebaiknya atur waktu di jam tangan Anda sesuai dengan tempat tujuan.

Saat di tempat tujuan: Setelah penerbangan sebaiknya Anda sisihkan waktu unttuk beristirahat saat sampai di hotel atau tempat penginapan. Hal itu untuk menghindari sakit kepala dan mual setelah penerbangan. Jangan lupa untuk mengisi perut. Jangan sampai perut Anda kosong saat berpergian.

2. Dehidrasi
Pemicu: Kurang mengonsumsi air putih, dan rendahnya tingkat kelembaban udara di pesawat.

Sebelum terbang: Setelah melewati pengamanan, beli sebotol air putih. Meskipun penerbangan hanya memakan waktu singkat usahakan untuk mengonsumsi air putih yang cukup. Jangan sampai tubuh Anda mengalami dehidrasi karena akan berefek buruk pada tubuh.

Saat di udara: Jangan mengonsumsi alkohol dan minuman yang mengandung kafein, karena akan mempercepat dehidrasi. Konsumsi air putih tiap jam, untuk mencegah dehidrasi.

Saat di tempat tujuan: Tetap minum air putih untuk memenuhi kebutuhan tubuh Anda.

3. Nyeri telinga
Pemicu: Saat pesawat lepas landas, tekanan udara membuat telinga bagian tengah juga mengalami tekanan.

Sebelum terbang: Persiapkan permen atau konsumsi obat pereda sakit acetaminophen 30-60 menit sebelum pesawat lepas landas.

Saat di udara: Ketika lepas landas, kunyah permen atau permen karet. Anda juga bisa mencoba menggerakkan mulut seperti menguap. Jika Anda membawa bayi, beri di susu botol

4. Pembekuan Darah (Deep Vein Thrombosis)
Pemicu: Duduk dalam waktu lama terutama saat dalam pesawat membuat peredaran darah tidak lancar. Darah akan terhambat dan membeku bahkan bisa menyebabkan stroke.

Sebelum terbang: Jika Anda memiliki kecenderungan pembekuan darah sebaiknya berkosultasi dengan dokter sebelum melakukan penerbangan.

Saat di udara: Untuk membuat darah Anda tidak membeku, berjalan lah di jalur antara tempat duduk. Atau cobalah untuk membentangkan kaki, lalu regangkan engkel, dan gerakkan hingga jari-jari kaki. Tarik jari-jari kaki ke bawah, lalu lemaskan. Lakukan hingga lima kali

Saat di tujuan: Berjalanlah, agar peredaran darah lancar. Jika Anda mengalami rasa nyeri pada kaki dan napas yang pendek sebaiknya periksa ke dokter. Karena hal itu merupakan gejala pembekuan darah.

Cerpen Karya Margaretha



Kado untuk Ingrid
By Margaretha Tioria Siregar
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya 2012
            Siang itu Margareth menelpon avio temannya karena ia sedang bosan di rumah,ia menelpon avio untuk membicarakan rencana pulang ke Jakarta bulan juli nanti.
“halo,avio,bagaimana apakah kamu sudah memesan tiket untuk pulang ke Jakarta bulan juli nanti?” Tanya Margareth.
“belum mar,memangnya kamu udah pesan??” Tanya Avio.
“belum vi,soalnya aku belum pasti akan pulang atau tidak di bulan juli nanti” kata Margareth.
“kalau begitu sama,aku pun juga belum pasti akan pulang atau tidak” kata Avio.
“yaudah vi kita sama – sama berdoa yuk agar kita bisa pulang juli nanti amin amin” kata Margareth.
“amin amin. oh ya Margareth,udah dulu ya,aku mau pergi nih” kata Avio.
“Oh yaudah nanti aku telfon lagi ya, bye avio” kata Margareth mengakhiri telpon.
            Setelah mengakhiri telfon Margareth merasa semakin kesepian, ia bingung siapa lagi yang ingin dia telpon, tiba – tiba terlintas di pikiran Margareth untuk menelpon Ingrid temannya yang satu itu.
“halo Ingrid, lagi apa?” Tanya Margareth.
“lagi di kampus mar, ada apa?” Tanya Ingrid.
“gak cuman mau ngobrol sama kamu aja ngrid” Kata Margareth
“oh begitu,kamu ada rencana mau pulang ke Jakarta gak bulan juli nanti?” Tanya Ingrid.
“iya aku pengen Ingrid pulang bulan juli nanti tapi mudah – mudahan aku bisa pulang doakan aku ya Ingrid” Kata Margareth.
“iya amin amin aku selalu doakan kamu” Kata Ingrid.
“oh ya, Ingrid kamu ulang tahun kapan?” Tanya Margareth.
“bulan ini margareth, tepatnya tanggal 23 nanti” Jawab Ingrid.
“oh tanggal 23, asyik deh”Kata Margareth.
“oh ya mar, udah dulu ya,aku mau masuk kelas” Kata Ingrid.
“oh yaudah, bye bye Ingrid” Kata Margareth mengakhiri telpon.
            Tanpa sepengetahuan Ingrid, Margareth menandai di kalendernya bahwa tanggal 23 nanti adalah ulang tahun Ingrid temannya yang satu itu, Margareth bermaksud untuk tidak lupa dengan ulang tahun Ingrid, temannya yang selalu mendengarkan curhatnya di saat Margareth sedang sedih dan galau.
            Pada sore hari tepatnya sekitar jam 4 Margareth menelpon avio lagi, Ia memberi tahu pada avio bahwa Ingrid teman mereka akan berulang tahun tanggal 23 nanti. Disitulah mereka berencana untuk memberi kejutan pada Ingrid.
“vi, Ingrid ulang tahun tanggal 23 nanti” Kata Margareth.
“hah??masa??kita kasih kado yuk untuk dia” Kata Avio.
“iya vi aku setuju dan dia tuh suka banget sama winny the pooh, jadi kita kasih kado yang berhubungan dengan winny the pooh” Kata Margareth.
“betul itu aku setuju nanti kalo kamu udah tahu mau kasih kado apa untuk Ingrid, kasih tau aku ya mar, kan gak seru kalo kado kita samaan” Kata Avio.
“betul itu vi, sebaliknya ya vi, kalo kamu udah tahu mau kasih kado apa ke Ingrid kasih tahu aku juga ya” Kata Margareth.
            Setelah itu Margareth mengakhiri percakapannya di telpon, dia melanjutkan kebiasaannya yaitu mencari harga tiket untuk pulang ke Jakarta bulan Juli nanti. Didalam hatinya ia tak berhenti berharap dan berdoa kepada Tuhan tetapi didalam hati ia juga berpikir bila bulan juli nanti ia tidak jadi pulang ke Jakarta, ia harus bersabar terkurung di medan, ia bisa menyimpan uangnya untuk pulang tahun depan.
“Ahh mungkin lebih baik aku ke Siantar saja kalau juli nanti aku tidak bisa pulang ke Jakarta” Desah Margareth.
            Margareth yang bingung dan bersedih pun harus menerima kenyataan pahit bila seandainya ia tidak bisa pulang ke Jakarta nanti, ia harus bersabar sekali jika memang tidak bisa pulang ke Jakarta. Besoknya Margareth pergi ke rumah avio, ia menemani avio mengerjakan tugasnya sambil sesekali mengajak avio bicara.
“Mar, kamu udah dapat kado buat Ingrid?” Avio memulai pembicaraan.
“belum vi.” Kata Margareth.
“jangan lupa mar, tanggal 23 nanti ulang tahun Ingrid.” Kata Avio.
“iya vi.” Kata Margareth.
            Karena hari sudah semakin sore Margareth pun pamit pulang pada avio dan di rumah Ia memikirkan apa yang hendak ia berikan kepada Ingrid, ia memutuskan untuk pergi ke mall dan mencari kado untuk Ingrid dan ketika ia sedang melihat – lihat di toko aksesoris ia melihat sebuah gantungan kunci yang lucu dengan motif bunga tulip. Margareth segera mengambilnya dan membayarnya di kasir. Setibanya di rumah, ia pun membungkus hadiah yang dibelinya untuk Ingrid dengan kertas kado, sambil membayangkan wajah bahagia Ingrid ketika menerima kadonya.
            Akhirnya hari istimewa itupun tiba tepat tanggal 23 Ingrid berulang tahun yang ke-19 tahun. Margareth pun menelpon Ingrid pagi – pagi untuk mengucapkan selamat ulang tahun, Ingrid senang sekali mendengarnya walaupun dia di Medan jauh dari keluarganya tapi setidaknya masih ada dua orang teman yang peduli padanya yaitu Margareth dan Avio.
            Siang harinya Margareth dan Avio mampir ke kost Ingrid untuk memberikan kado kepadanya, ketika Ingrid membukakan pintu untuk mereka, Margareth dan Avio mengucapkan “Happy Birthday” kepada Ingrid dan ia pun menyambut mereka dengan gembira, Margareth dan Avio pun menyerahkan kado mereka untuk Ingrid dan Ingrid pun menerima kado dari mereka dengan senang hati.